Skip to main content

Seorang sarjana baru jurusan Ilmu Komunikasi sebuah universitas terkenal di Jakarta galau. Dia curhat di laman Facebook. Katanya, tidak ada tempat untukfreshgraduate jurusannya. Sudah beberapa bulan ini dia masih menganggur. Padahal IPK nya hampir sempurna.

Dia makin galau karena curhatan beberapa kawannya yang sudah bekerja. Misalnya ada yang kerja di industri media curhat. Keluhannya, gaji kecil padahal kerjanya butuh ‘nyali’ blusukan untuk mencari berita, investigasi, deadline ketat, butuh mental baja, otot kawat tulang besi.

Ada juga seniornya yang bekerja di konsultan Publik Relations (PR). Keluhannya, dikasih kerjaan administrasi, media monitoring, media arrangement. Belum bisa langsung terlibat dengan projek-projek besar karena butuh jam terbang tinggi dulu. Ada lagi yang kerja di agensi iklan atau event organizer dan industri kreatif lainnya. Keluhannya, jam kerja acak-acakan, lembur terus dan harus tetap kreatif meski otak dan badan lelah.

Sebagian lagi bekerja sebagai marketing communication atau staf PR di perusahaan. Keluhannya, teamnya sedikit tapi semuanya dikerjakan, mulai dari admin sosial media, monitoring berita, media relations, bikin event, jadi MC, bikin pidato si bos, menghadapi keluhan pelanggan, bikin iklan, pasang spanduk dan umbul-umbul, sampai road show ke daerah untuk mengejar target penjualan. Belum lagi si bos ternyata berlatar belakang marketing atau teknik, sehingga menggampangkan segalanya dan tidak bisa mengukur kualitas pekerjaan tim PR nya.

“Kok beda jauh ya dengan yang diajarkan pas kuliah, dimana seolah kita adalah PR Director yang harus mengambil keputusan dalam sebuah issue atau crisis, menentukan tema campaign dan strateginya, menganalisa berita dan issue terkait institusi. Pas kerja, malah jadi palugada. Apa aja bos mau harus ada, enggak ada pekerjaan strategis,” keluhnya, tambah galau.

Jadi, apakah jurusan Komunikasi atau lebih spesifik Public Relations masih sesuai dengan ketersediaan lapangan kerja di industri? Bagaimana secara keilmuan dan profesi apakah masih akan berkembang atau melambat dan kemudian akan mati

Diskusi di Facebook itu bermula dari postingan kawan praktisi Sunarto Prayitno, Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) ITKP. Sunarto sendiri mengaku saat mengajar ilmu-ilmu PR seringkali bertanya ke diri sendiri, apa sih sebenarnya yang ingin dia sampaikan tentang PR, baik dari sisi pengetahuan sebagai akademisi, maupun bentuk aktivitas praktisi dalam industri PR. Kok, rasanya semua ‘bullshit’. Definisi PR terlalu luas dan mengambang tanpa kejelasan yang kongkrit, layaknya obat yang dapat menyembuhkan segala penyakit.

Dia membahas misalnya, dalam salah satu ilmu PR yang mengajarkan ‘Stakeholder Relationship Management’, seorang profesional PR dituntut kemampuan untuk mengelola publik internal dan external. Dalam ilmu PR lainnya, Employees Relationship, mereka harus paham tentang pengelolaan Sumber Daya Manusia; Community Relationship, perlu berbasis pada ilmu Kemasyarakatan dan Lingkungan; Consumers Relationship, menjadi ahli Marketing; Media Relationship, wajib paham Journalism; Investors Relationship, perlu tahu pengelolaan keuangan; Members and Volunteers Relationship, harus berpikir sebagai pekerja sosial; Governments and Regulators Relationship, harus berbekal ilmu Pemerintahan; Activists Relationship, berpikir menjadi oposan; dan Global Citizens Relationship, musti lihai dalam mencerna perbedaan budaya, kendala bahasa, paham konten lokal, dan masih banyak lagi yang lainnya. Akibatnya, semua pengetahuan harus dikuasai, yang mungkin hanya mampu berada di permukaan saja.

Prof Alwi Dahlan pun tak tahan untuk ikut mengomentari di comment Facebook. Menurutnya, Public Relations sebagai ilmu dan profesi sudah lama selesai. Beberapa tahun kebelakang studi riset sudah berubah menjadi gudang teknisi praktisi tukang hoax, buzzer, dan komunikasi taktikal yang hanya meniru-niru ilmu komunikasi murni. Teknik yang diterapkan sama sekali tanpa teori, filosofi dan etik. Yang sibuk bicara teori tinggal penerbit buku dan dosen-dosen pengantar PR.

Skenario pesimis juga diungkapkan Robert Phillips, penulis buku “Trust Me, PR is Dead” (2015). Robert percaya bahwa PR sudah mendekati ajal. Eks CEO Edelman EMEA (Eropa Middle East Africa) ini melihat disiplin ini masih tidak lepas dari media relations dan publisitas. Dalam bukunyaRobert meyakini jika praktek PR bukanlah sebuah profesi. Tidak ada minimum akademik atau pengalaman sebagaibarrier to entry ke profesi ini.Semua sarjana apapun bisa jadi praktisi PR. Tidak ada kebutuhan untuk membangun perkembangan profesional. Tidak ada sangsi untuk malpraktek.

Dia memberikan ilustrasi, seorang dokter bisa mengatakan, “Trust me, i’m a doctor” karena praktek pengobatan adalah sebuah profesi. Namun belum ada yang percaya dengan kalimat, “Trust me, i’m a PR” karena praktek PR diyakini bukanlah sebuah profesi. Robert sendiri akhirnya keluar dari Edelman karena dia tidak lagi percaya apa yang dia kerjakan.

Sebagai praktisi PR di tanah air yang mengepalai Asosiasi Perusahaan PR Indonesia (APPRI), saya meyakini adanya perkembangan yang lebih optimis. Seperti juga para PR Agency Jakarta Head seluruh dunia di forum International Communications Consultancy Organisation (ICCO) tahun lalu yang optimis melihat profesi dan bisnis PR kedepan yang lebih baik dan profitable.

Saya melihatnya lebih pada berakhirnya era tradisional PR, sebuah era manipulasi massa dan munculnya era modern PR. Orang yang mengklaim bahwa PR akan mati, adalah orang yang gagal beradaptasi cepat dengan revolusi data.

Seperti juga sarjana baru diatas yang serba galau karena curhatan kawan-kawannya yang terus saja menggerutu kenapa pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang dipelajarinya di kampus bukan cepat beradaptasi dan menaklukan tantangan yang dihadapi.

Disiplin PR perlu untuk beradaptasi dengan dunia baru yang penuh gangguan. Disruptive bahasa kerennya. PR tidak mati hanya butuh penyegaran. Naik kelas dari sekedar media relations dan publisitas menjadi sebuah strategic thinking. Jadi, Trust Me, PR is not Dead.

Penulis : Suharjo Nugroho, Ketua Umum APPRI, Managing Director Imogen PR, Indonesian Partner of PROI Wordwide, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI).

seo articles